Catatan Abu-Abu

CATATAN HITAM SEORANG  PUTIH

ABDUL JALIL

Mungkinkah aku ini seorang pecundang yang hidup di antara kebohongan. Jika memang benar begitu pantaskan aku hidup di dunia bersama orang-orang berkalung sorban. Berdosa setiap hari menjadi kesalahan yang terus aku lakukan tanpa dinding pembatas. Aku hidup bergantung nafas dan terus  menghirup bau-bau dosa yang berlangsung. Kapankah akan lepas dari panggung sandiwara kehidupan. Apakah aku ini benar hidup dalam kebenaran yang pasti. Teman hanya melihat putih bukan hitam dalam gelap. Pola yang pasti ada dalam diriku. Aku benar mengatakan kesalahan yang sulit untuk di buktikan dengan satu kalimat ataupun satu ayat kehidupan. Ayah dan bunda di rumah dan aku dimana ? siapa aku yang benar atau orang lain yang salah tentang seorang aku. Mereka mengenal aku  hanya sebatas kulit ari yang kering. Belum ada orang pasti bisa tahu siapa aku. Bunda berdoa demi kuliahku ayah bekerja demi menghidupiku dan aku diam untuk membisu siapa aku yang benar atas kesalahan hidup ini. Pembohong kehidupan apakah aku yang terus di hina zaman untuk siap di lenyapkan ? kehidupan ini bagai bola salju putih.

Sulit aku untuk menghindar dari dosa kehidupan ini ya Tuhan Maha Agung. Sampai hari ini pun dosa terus tercipta tiada henti kapan akan meleyapkan dengan sendirinya. Aku hanya manusia yang berakal namun di mana akal sehatku sekarang? Justru nafsu setan dan sahabatnya yang menjadi teman setianya. Aku sekarang merasa menjadi manusia yang lebih dari seorang yang bodoh atau memang kehidupan ini sudah bodoh sejak aku belum di lahirkan? Atau yang lain aku tidak mengetahuinya tentang hal tersebut. Kenikmatan yang semu di dunia ini hanya menjadi ujian bagiku seberapa kuat aku di goda dan di siksa. Mengalir pelan tiada tahu kemana akan pergi ke tempat tujuan seharusnya. Aku begitu tidak mengerti mengapa air itu bisa mengalir. Seharusnya aku tahu bukan masalah ilmu yang sedang pelajari di kampus ini. Semua ini tentang kehidupan baru yang akan hadir jika di kehendaki oleh sang pencipta alam raya ini.

Mengingat dosa yang pernah terjadi dan terulang terasa lebih aneh dari mimpi. Satu jam berlalu peristiwa seorang jatuh dari lorong waktu kehidupan tercipta. Berdosa dan dosa kata itu yang selalu terucap dalam hari yang paling dalam. Kehidupan ini apakah sudah adil dengan seadil-adilnya? Jika memang sudah di kata adil. Siapa aku dan mengapa aku disini hidup  untuk mencipta dosa saja. Bukan kah manusia hidup di dunia ini hanya untuk mencari keridhoan Tuhan semata?. Lantas siapa yang merasa dirugikan di dunia ini atau waktu yang sedang kehendaknya pasti terjadi kerugiannya. Menurutku,keduanya memang saling berhubungan di tambah dengan orang ketiga di dalamnya. Termasuk aku juga mungkin terlibat dalam jurang-jurang menuju manusia yang pendosa kehidupan. Jika mungkin belum jelas apa yang baru saja aku tuliskan tanya yang lebih paham. Yaitu aku sendiri.

About Abdul Jalil

Semua tentang ku dan Haruna

View all posts by Abdul Jalil →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *