Catatan Untuk Hana dan Nata Pramuka Itu Adalah Bersaudara

Pramuka
img_7595
Foto Pribadi : Abdul Jalil (Undip) dan Anggota Pramuka Universitas Diponegoro

Di balik awan aku memimpikan sesuatu yang jauh dari kemungkinan dan di balik hujan aku memikirkan tentang catatan untuk orang-orang yang pernah mengakuiku hidup sebagai saudara. Hanya mereka dari sekian banyak orang hidup di dunia ini. Dan masih ada orang lain yang belum mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari catatan ini, walaupun aku dulu sudah pernah mengunggah beberapa judul yang berkaitan tentang agenda waktu itu (muspandega).

Kebanggaan tertinggi dari hidup manusia pada umumnya aku memang belum mengetahui begitu pun aku sendiri. Menjadi seorang Pramuka ketika memasuki periode baru dari kehidupan dalam mencari ilmu pengetahuan bukan tujuan asli yang pernah aku impikan. Berbeda karena keinginan aku memulai hidup dengan orang lain belajar untuk memahami situasi dan kondisi yang ada pada waktu itu. Tidak mudah namun itu perlu untuk kehidupanku di masa mendatang.

Aku sedikit mengingat mereka semua ketika pendahulu sedang melaporkan apa yang sudah dilakukan ketika mengemban amanah. Ku dengar dengan seksama meskipun kepala ini terasa aneh memikirkan hal yang di rasa rumit di pikiranku. Bahkan aku sempat untuk tidur lebih lama dengan yang lain. Aku bukan seorang yang perlu banyak mendengar namun perlu ada keseimbangan dalam mengambil suatu informasi dari mereka semua dengan sensor mata. Senyum dan tidak mengambil rasa pusing ketika menghadapi mereka.

Aku bukan seorang yang penting bagi mereka dalam mengambil suatu keputusan nyata namun perlu adanya aku untuk mendapatkan suatu kepastian hidup sebagian dari mereka. Aku hanya seorang yang belum mengerti arti kehidupan lain tentang mereka.

Dalam beberapa tahun kedepan pastinya akan banyak orang yang akan menjadi seorang ayah atau ibu, begitu pun juga aku. Singkat cerita aku sudah memikirkan jauh lebih dari mereka tentang nama-nama penerus kehidupan masing-masing hidup. Dan mereka tentu berbeda dalam menyikapi tantangan kehidupan. Seragam yang kami pakai memang menandakan ikatan kekeluargaan. Jauh dari rasa berbeda kami semua adalah saudara. Aku banyak memiliki ikatan kekeluargaan selain dari keluargaku sendiri. Dengan kata lain aku mempunyai lebih dari satu keluarga. Namun, hanya ada satu ikatan yang pernah aku rasakan dalam hidupku ketika keluar dari kehidupan rumah adalah mereka dan tidak ada ikatan lain lagi. Karena Pramuka adalah suatu ikatan terkuat yang pernah ada di dunia ini.

Bahkan aku sempat untuk memikirkan apakah Nata dan Hana akan mengikuti jejak dari aku ini yang nanti menjadi seorang ayah bagi mereka. Tentu aku belum bisa untuk memastikannya. Jauh sebelum waktu aku akan menikah catatan tentangnya sudah aku persiapkan sebelum keadaan menjadi berbeda. Hanya bisa berharap yang terbaik untuk mereka semua.

Pramuka adalah bagian dari kehidupanku, karena dewasaku adalah bersaudara. Rasa persaudaraan yang kuat aku rasakan begitu indah. Bahkan aku seperti mempunyai kakak dan adik kandung yang begitu banyak. Karena mereka hidupku lebih terasa manis dan berwarna. Jika nanti Hana dan Nata hadir di dunia ini, boleh jadi aku akan memperkenalkan mereka dengan kegiatan kepramukaan yang ada di Indonesia. Kalau keduanya tidak suka apa boleh buat yang penting mereka suka sebisa mungkin untuk mendukung dengan sebaik-baiknya.

Dalam catatan ini aku juga ingin sekali untuk berpesan kepada Hana dan Nata kalau Pramuka bukan sembarang kegiatan yang membosankan melainkan menyenangkan untuk menjadi kisah terbaik selama hidup di dunia ini.

Aku (calon Ayah) bagi kalian yang sekarang memang belum hadir di dunia ini namun aku merasakan kalian akan bertemu denganku. Kalian penyejuk bagi kehidupanku dan anugerah dari Tuhan yang perlu di jaga dan di rawat agar dapat membahagiakan kami (orang tua) di kemudian hari. Aku berharap kalian sedikit mengenal sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu di kegiatan Pramuka. Dan tidak menjadi paksaan bagi kalian jika tidak menyukainya karena hidup masih menjadi pilihan. Dunia yang kalian tinggali sekarang ini sudah berbeda jauh ketika aku (Ayahmu) membuat catatan ini. Jadi, aku perlu memaklumi tingkah kalian dan sebaliknya. Aku masih mencari ibu bagi kalian yang akan melahirkan kehidupan baru. Tidak mudah bagiku untuk mendapatkan yang sesuai dengan keinginan ku dan kedua orang tuaku (Kakek dan Nenek). Namun Tuhan itu tidaklah tidur dan berdiam diri saja. Dia Maha Mengetahui apa yang paling di inginkan oleh hamba-hamba-Nya. Jadi, aku ini sedikit lebih mengerti tentang keadaan ini.

Kalian (Hana dan Nata) ketika membaca catatan ini boleh jadi sudah mengerti sedikit tentang arti dari kehidupan. Dan sudah memikirkan tentang kekasih, pacar, atau gebetan. Ya aku tidak bisa memastikannya untuk sekarang ini. Namun, aku sedikit mengetahui dengan memperkirakan saja. Satu hal yang aku pikirkan saat membuat catatan ini untuk kalian. Aku belum yakin kalian hadir di dunia ini sebagai Hana dan Nata. Karena aku sendiri juga belum tahu apakah Tuhan memberikan anak laki-laki, anak perempuan, atau kedua laki-laki dan juga semuanya perempuan. Jadi, aku hanya bisa berharap dengan sebaik-sebaiknya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan catatan ini juga bukan sebuah patokan hidup di kemudian hari namun hanya sebuah catatan sejarah dan pesan yang perlu untuk dibaca ketika kalian sudah siap.”

Cukup itu saja catatan yang bisa aku buat, memang agak membosankan pasti jika ada orang lain membaca tentang catatan ini. Karena tidak ada orang lain selain aku yang mampu untuk meluangkan waktu membuat catatan seperti ini. Terima kasih

Abdul Jalil

Semua tentang ku dan Haruna

https://abduljalil.my.id/

Tinggalkan Balasan