Ceritanya Menemani Mereka Makan Bersama

Foto : Dobel det

Semarang, 15 April 2018. Malam hari yang dingin aku dan mereka sedang ditempat makan. Aku menyebutnya “ricis paktori”, kalau dipikir-pikir makan ditempat itu harus siap uang yang banyak (karena tidak sesuai dengan golongan kami). Hehehe

Ceritanya kenapa aku dan mereka ada disana karena adiknya Syifa yang bernama Rahma ingin sekali makan ditempat (aku sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan).

Kalau mbaknya ya sebenarnya sudah melarang untuk tidak makan disana tapi ya namanya adik yang bandel ya begitu (terlebih lagi keinginan perempuan yang aneh-aneh kadang harus dituruti kalau tidak pastinya ngambek).

Aku juga baru pertama kali datang ke sana yang berada dicabang Semarang. Aku lebih memilih warteg sebagai pilihan tempat makan yang ideal dan ramah kantong, lagian aku juga harus menabung sedikit demi sedikit untuk masa depan yang sejahtera. Karena dicatatan ini mengungkapkan kebenaran dan kejujuran adalah hal yang baik selama tidak menjelek-jelekkan orang lain.

Aku sebenarnya lupa atau memang sengaja belum ingat ya kenapa kami berempat bisa bertemu padahal seseorang yang ku kenal dekat ya hanya Syifa, seingatku pada waktu itu aku bisa  kenal dia (Rahma) ketika mengantar Syifa ke Ngaliyan (depan kampus 3 UIN Walisongo Semarang).

Karena aku orangnya suka membantu jadi dengan senang hati pasti membantu selama ada waktu luang (sebenarnya ya meluangkan) dan aku sendiri juga tidak merasa terbebani dengan orang-orang sekitar.

Habis makan-makan kami bertempat pulang kembali menuju Tembalang. Diperjalanan sesekali obrolan terbuka diantara aku dan Syifa. Menurut teman-temannya Syifa itu orang yang jutek dan judes tapi menurutku perempuan yang seperti itu adalah tipe-tipe perempuan setia.

Kalau ditanya apakah aku menyukai Syifa ? tentu iya (ya hanya sebantas suka). Karena mencari perempuan seperti itu bukan hal yang mudah. Namun, kalaupun dia tidak menyukaiku juga tidak masalah aku bisa mencari perempuan lain.

Tentang kisah cinta untuk menjadi seorang Haruna tentu aku ingin hal-hal sederhana saja, karena bakal cukup merepotkan jika harus memikirkan hal yang sebenarnya belum pasti untuk kehidupan kami (aku dan Syifa).

Sebenarnya didalam hatiku telah “terjadi pertentangan (perdebatan)” sejak aku mengenal dan sedikit mengerti tentang kata cinta ketika dulu masih duduk dibangku SMA kelas 10.

“Aku dulu ingin mencintai (dekat) perempuan yang aku suka sejak pertama kali mengikuti kemah Pramuka di SMA namun perempuan yang aku suka justru memilih laki-laki lain”.

Hanya dengan sebuah permen pemberian darinya aku bisa jatuh cinta (pada waktu itu) tapi ya sudah aku harus kembali hidup untuk menikmati kebahagiaan yang telah tercipta oleh-Nya. 

Oh iya tentang perdebatan didalam hatiku ini benar-benar membuatku sangat kerepotan. Hampir delapan tahun aku belum berdamai dengan perasaanku sendiri tentang perasaanku dengan Haruna.

Karena aku sendiri masih sangat penasaran dengan sosok Haruna yang kadang datang ke dalam mimpiku. Emm…..sepertinya aku terlalu terbawa suasana (aku harus stop sebelum tembus 1000 kata per 1 judul catatan). Hehehehe

Aku lanjut lagi cerita diatas motor saja deh daripada menceritakan sesuatu yang kalian sendiri tidak akan paham (yang hanya membaca catatan ini tanpa bertanya langsung kepada penulisnya sendiri).  

Ceritanya singkat aku sudah sampai di rumah kosnya Syifa dan ketika aku ingin pulang menuju ke rumah kontrakan. Aku mendapat yang terbilang biasa saja namun memiliki makna yang dalam (bagi yang bisa mikir).

 “ Terima kasih ya untuk hari ini, maaf merepotkan ” Syifa

Ya walaupun tidak lengkap apa yang sudah Syifa katakan kepadaku itu sudah cukup bagiku sebagai ungkapan penghargaan kepada orang lain yang sudah meluangkan waktu untuknya.

Jadi, kesimpulannya apa ya ?  hehehehe

Catatan Akhir Kuliah #32

Salam,

About Abdul Jalil

Semua tentang ku dan Haruna

View all posts by Abdul Jalil →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *