Kemudahan Yang Disalah Gunakan Saat Ujian Akhir Semester

Dalam catatan kali ini aku ingin sekali menulis sesuatu yang boleh jadi pernah ada yang menulisnya. Tepat di tanggal 6 juni 2016 awal puasa ramadan 1437 H umat muslim diseluruh dunia InsyaAllah melaksanakan ibadah yang penuh berkah itu. Dan pada hari ini ujian akhir semester dilaksanakan.

Pemikiran sederhana ketika ujian akhir bertepatan dengan bulan suci ramadhan adalah akan banyak mahasiswa yang bersikap lebih bijaksana dan penuh keyakinan dalam arti yang sebenarnya. Namun, fakta dilapangan memang jauh berbeda dengan apa yang aku pikirkan pada hari ini.

Dahulu cara klasik yang biasa digunakan  pelajar/mahasiswa untuk mendapatkan kemudahan dalam menjawab soal-soal ujian yaitu dengan cara bertanya kepada teman yang bisa diajak untuk bekerja sama. Karena banyak orang yang mengungkapkan “ bersama itu lebih baik ” daripada sendiri hasilnya hati ayng tersakiti. Ada pula yang membawa kertas kecil yang berisikan materi-materi singkat ya sekedar untuk berjaga-jaga jika diperlukan tentunya hari sebelum ujian sudah pasti dipersiapkan dengan matang. Bahkan ada cara yang lebih ekstrim dari kedua opsi yang sudah aku berikan. Yaitu dengan membaca buku materi hingga ke dalam ruang ujian. Untuk opsi yang terakhir itu memang dibutuhkan nyali yang besar.

Aku sendiri juga memiliki cara untuk mendapatkan kemudahan dalam mengerjakan soal-soal ujian. Ya boleh dibilang caraku ini adalah yang paling aman untuk digunakan. Yaitu dengan menggunakan sandi-sandi. Aku memiliki kemampuan untuk mengubah banyak sandi kedalam satu sandi yang lumayan kompleks dan bisa digunakan. Hingga saat ini aku masih menggunakannya jika dalam keadaan memang perlu.

Jaman kini sudah berubah. Teknologi digital begitu sangat pesat pertumbuhannya. Tak heran jika saat ini setiap manusia boleh jadi memiliki satu teknologi komunikasi yang bernama smartphone. Kalau aku untuk saat ini masih menggunakan stupidphone. Aku mengada-ada istilah stupidphone karena memang ingin tetap setia dengan alat komunikasi yang masih berbasis standart komunikasi (telp/sms), jika dirasa butuh untuk menggunakan smartphone insyaAllah akan membelinya. Ya semoga saja ada rejeki untuk semua itu.

Ujian pada hari senin dengan mata kuliah fisika plasma dan fusi nuklir aku banyak melihat sesuatu pemandangan yang tidak biasa. Sifat ujian yang membolehkan untuk membaca buku referensi di era sekarang sudah berganti dengan membawa smartphone kelas Iphone dan Samsung. Memang sangat mudah untuk mencari solusi ketika mengalami kesulitan dalam mengerkan soal-soal ya tinggal àklikàketemuàjadi deh.

Aku mahasiswa yang biasa saja sewaktu pelaksanaan ujian fisika plasma. Aku yang duduk di barisan depan pojok kiri di ruang A-201 (jauh dari pintu masuk). Mengerjakan soal-soal ujian dengan semangat luar biasa. Hampir tanpa persiapan yang baik untuk menghadapi ujian fisika plasma. Dari 4 soal yang ada aku hanya dapat mengerjakan 2 soal saja dan itupun tidak sepenuhnya yakin itu jawaban yang semestinya.

Aku hanya bermodalkan sebuah buku yang baru saja pinjam beberapa jam sebelum ujian dimulai. Aku masih bersyukur masih bisa membawa referensi yang sah. Dan aku melihat beberapa dari temanku justru mengeluarkan smartphone  untuk menjadi pengganti buku. Aku berpikir tidak ada salahnya membawa smartphone kedalam kelas saat ujian. Hanya saja persaingan akan menjadi kurang sehat. Mereka yang membawa smartphone kedalam ruang ujian begitu sangat mudahnya bertukar informasi mengenai jawaban atas persoalan ujian fisika plasma.

Tidak ingin menjadi beban ketika mengerjakan ujian kalau memang aku sudah tidak mampu untuk menyelesaikannya. Aku lebih senang untuk tidur,jika ada yang berbaik hati menawarkan kemudahan aku tidak akan menolaknya tapi tetap risiko ada.

Aku hanya melihat kedua pengawas yang sebenarnya sibuk dengan dunianya masing-masing. Yang satu mainan hape dan satunya lagi tidur. Terkadang keduanya juga sesekali memeriksa keadaan kami siapa tahu ada yang berbuat kecurangan. Sedangkan aku juga sedang sibuk memikirkan bagaiamana caranya bisa tidur disaat ujian. Aku terus mencoba dan mencoba pada akhirnya berhasil untuk tidur. Aku tidak ingin menyia-yiakan waktuku untuk melihat mereka saling bertukar informasi jawaban melalui smartphone. Lebih bijak aku tidur dan itu tidak akan menganggu yang lainnya.

Hanya itu saja yang bisa aku catat, karena aku juga mempunyai kesibukan lain. Semoga keadilan masih ada di dunia ini, karena aku sangat berharap dunia ini kembali kedalam fungsi yang sebenarnya.

Oleh : Abdul Jalil

 

About Abdul Jalil

Semua tentang ku dan Haruna

View all posts by Abdul Jalil →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *