Mokondo

Update Terakhir: 17 Juli 2025 Oleh Abdul Jalil

Istilah “Mokondo” merupakan akrnonim dari Modal Komitmen dan Doa. Mokondo bisa diartikan lain sesuai konteks yang diinginkan. Namun, saya ingin menggunakan konteks di kalimat pertama secara harfiah.

Pada awalnya. Akronim “mokondo” merupakan sesuatu yang baik dan salah satu hal yang harus ada di dalam diri seseorang. Tanpa hal itu manusia seperti kita ini bisa dianggap kosong sekalipun memiliki hal lain yang berguna.

Manusia tanpa komitmen apakah bisa dipercaya? Manusia tanpa berdoa apakah dirinya sudah tidak butuh Tuhan?

Masih banyak pertanyaan menggelitik yang mungkin saja mengganggu pikiranmu. Di sini saya hanya menulis sedikit keresahan tentang akronim tersebut yang terlalu gampang untuk disalahartikan/salahgunakan.

Mari kita mulai…

Istilah mokondo biasanya ditujukkan ke pada seorang pria yang hanya modal omong kosong saja. Mokondo merupakan sindiran untuk pria yang tidak modal duit atau justru sering minta duit (hutang) ke pasangannya.

Tidak ada kontribusi nyata yang saling menguntungkan ketika menjalin hubungan. Semua yang dilakukan hanya untuk menguntungkan diri sendiri dan cernderung merugikan orang lain.

Kamu mungkin pernah atau sering mendengar/membaca kata mokondo baik itu di lingkungan sekitar atau media sosial.

Saya juga yakin kamu (wanita) lumayan sering mengucapkannya ketika curhat dengan sahabat/bestie ketika sedang membicarakan seorang pria yang tidak memberikan benefit sesuai standar.

Standar yang saya maksud adalah standar dari wanita itu sendiri alias tidak ada standar tetap. Karena standar setiap wanita atau bahkan pria itu berbeda-beda.

Apalagi ketika saya membaca beberapa postingan di media sosial soal pria mokondo dalam beberapa versi. Tentu saja ada versi pria mokondo yang beneran bikin resah wanita. Ada juga yang sampai saya sendiri pun ikutan geram saat mengetahuinya.

Saya perlu mempejelas lagi konteks mokondo dalam catatan ini adalah “modal komiten dan doa dalam arti yang sebenarnya“. Namun, jika kamu mengartikan mokondo itu pria yang tidak memiliki duit/sering hutang ke wanitanya.

Hal itu sudah beda tujuan dengan apa yang saya ingin tulis.

Mokondo itu bukan sesuatu yang salah bagi pria jika dilakukan dengan benar. Berkomiten itu bukan sekedar omongan. Melainkan ada aksi nyata dan tidak merugikan orang lain.

Komitmen bukan sekedar kata-kata keren di dalam obrolan dengan pasangan. Ada tanggung jawab besar dibalik kata tersebut. Seseorang yang tidak bisa berkomiten. Selamanya juga tidak akan pernah bisa dipercaya.

Maknanya sangat dalam dan tidak bisa dianggap remeh seperti “dia tidak modal apapun ketika bersamaku” dalam sudut pandangnya yang dimaksud itu adalah duit.

Masalahnya generasi sekarang benar-benar suka sekali merubah makna kata/kalimat seenak jidat. Bahkan tidak jarang mereka mengubahnya menjadi lebih rumit.

Tidak jarang mereka memperdebatkan masalah yang mereka buat sendiri dan ujung-ujungnya menimbulkan debat kusir yang tidak bernilai apapun selain buang-buang waktu. Ya begitulah hidup sudah dikendalikan tren.

Dalam menjalin hubungan idealnya keduanya saling memberi (berkontribusi) bukan salin menuntut. Jika hal itu sudah dilakukan dengan rasa ikhlas. Saya yakin tidak ada kata mokondo/,momekdo.

Momekdo akronim dari “modal m3m3k doang“. Merupakan sindiran untuk wanita yang hanya modal penampilan tanpa memiliki modal lainnya.

Di era sekarang ada banyak sekali wanita dengan spesifikasi seperti itu. Tidak perlu saya bahas lebih lanjut. Karena mereka sejatinya sudah menjatuhkan diri mereka sendiri.

Lanjut bahas mokondo…

Saya sebagai pria tentu harus mampu berkomitmen dengan pasangan dan tidak lupa bagaimana caranya berdoa agar semuanya baik-baik saja. Masalah duit masih bisa diusahakan. Karena sejatinya manusia harus selalu berusaha.

Begitu pun dengan pria-pria di luar sana yang sedang berusaha bangkit untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik, dapat diandalkan, berkomitmen penuh dengan pasangan.

Sebelum mengakhiri catatan ini, ingin bilang sejujur-jujurnya tentang wanita yang masih ada kaitannya dengan mokondo.

Saya merasa kasihan sekali dengan mereka yang gampang terpengaruh standar-standar bodoh agar bisa diakui. Mengikuti opini menyesatkan dan tidak memahami apa yang mereka sedang bicarakan.

Tekadang merasa menjadi manusia paling dirugikan/tersakiti karena perilakunya sendiri dan mencari kambing hitam agar tidak terlihat buruk di obrolan.

Semua itu dilakukan hanya demi validasi palsu.

Sekian dari saya dan terima kasih.

Salam,

Traktir Es Krim

About Abdul Jalil

Blogger aktif sejak 2013. Berbagi cerita dan pengalaman investasi sejak 2018 melalui My Life Story. Selengkapnya »

View all posts by Abdul Jalil →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *