Syafa Aku Ingin Bertemu Denganmu

Catatanku

Suatu ketika di hari luangku dan Syafa, kami sempatkan waktu untuk sejenak bertemu melepas janji yang dulu pernah aku beri. Tak aku kira akan sampai seperti ini. Jauh-jauh hari memang sempat di rencanakan untuk bertemu dengannya hanya sekedar untuk melunasi janji. Pada akhirnya kamis malam 23 Juni 2016 kami bertemu hanya berdua di tempat makan (sebelumnya aku jemput dulu).

Suasana kampus Undip Tembalang  lebih sepi dari pada biasanya. Karena memang sudah banyak mahasiswa yang pulang kampung. Hanya orang-orang tertentu saja yang masih meluangkan waktu sementara untuk tetap tinggal di Semarang.

Bukan suatu kebetulan aku dan Syafa bisa bertemu. Jauh sebelum hari itu aku sebenarnya sudah ingin sekali mengajaknya untuk bertemu. Namun, Tuhan memang mempunyai rencana lain tentang hal itu. Dan hari itu adalah kesempatan untuk bertemu dengannya.

Baca juga: KENANGAN DAN SENYUM MANIS DARI KITA UNTUK DUNIA

Yang masih aku ingat tentangnya di masa lalu adalah dia merupakan pribadi yang imut, cantik lucu dan banyak orang yang bahagia karenanya ya termasuk aku ini. Hampir seperti yang dulu perubahan setiap perubahan akan terlihat dengan sendirinya. Dan aku diam-diam mengingat masa laluku sendiri dan dirinya. Ternyata kami masih mengingatnya dengan baik.

Direncanakan sebelum bertemu dengannya makan malam bersama, hanya berdua saja. Karena yang lain entah kemana aku juga tidak tahu. Terkesan aku dan Syafa itu sedang kencan (dinner) padahal hanya minum jus saja. Mau bagaimana lagi waktu memang sudah malam dan banyak dari teman-temanku yang sudah pulang. Aku nikmati saja waktu berdua di tempat makan. Tentunya aku tidak ingin di tempat yang sepi. Takut ada yang ketiga pada keadaan tertentu.

Dengan satu meja tanpa kursi. Aku dan Syafa berdiskusi tentang apapun yang memang perlu untuk didiskusikan. Ya walau awal-awal memang terkesan kaku tapi lama-lama biasa juga. Maklum saja aku dan Syafa lebih dari dua tahun tidak bertemu.

Apalagi Syafa bertanya-tanya juga tentang siapa itu Haruna. Aku hanya dapat menjelaskannya dengan sedikit ada perasaan malu dan takut jika Haruna sampai bocor kepada orang lain. entah itu sahabatku sendiri. Syafa juga bertanya-tanya sedikit tentang apa yang sudah aku lakukan di kampus selama ini ya sekaligus bercerita panjang lebar entah alur apa yang aku gunakan pada waktu itu. Melihat Syafa bahagia aku juga senang melihatnya senyum manisnya. Karena kebahagiaan seorang kakak tingkat yang bertemu dengan adiknya sendiri di kampus yang berbeda.

Obrolan demi obrolan kami sajikan untuk mengisi malam yang semakin sepi. Karena yang aku ketahui hanya ada kami dan dua orang yang sedang berduaan juga. Tentu aku tetap menjaga adat istiadat sebagaimana mestinya sebagai manusia yang belum halal baginya. Tidak boleh main tangan, memandang Syafa pun tidak sepenuhnya aku berani. Sebagai seorang yang sudah mengenal banyak tentang Syafa aku juga tidak ingin berkata banyak, karena itu tidak baik untuk diumbar-umbar.

Bercanda-tawa mengenang masa lalu semasa di SMAN 1 Gubug. Ya menjadi bumbu di masa sekarang ini. Apalagi kami sama-sama jomblo bahagia. Syafa memutuskan untuk sendiri lagi setelah sekian lama bersama teman sekelasnya dulu menjadi kekasih hatinya. Kalau untuk namanya aku tidak akan menyebutnya. Karena itu bersifat rahasia. Aku yang sendiri,sejatinya juga tidak sendiri. Karena masih ada teman-teman yang mampu menghiburku untuk tetap bahagia. Karena tidak ada yang lain lagi selain mereka. Begitu juga dengan Syafa yang di masa lalu juga bagian dari kebahagiaanku.

Waktu menunjukkan hampir jam sebelas malam, merasa tidak enak dengan pemilik tempat makan pada akhirnya. Kami berdua pulang dan tidak lupa aku mengatarnya pulang ke kostnya. Menyampaikan salam terakhir sebelum aku kembali ke kontrakanku sendiri.

===ABDUL JALIL===

Catatan ini dapat juga dibaca di CATATAN HIROESHY NAKATA

 

 

Abdul Jalil

Semua tentang ku dan Haruna

https://abduljalil.my.id/

1 thought on “Syafa Aku Ingin Bertemu Denganmu

  1. I like this post, enjoyed this one regards for putting up. The goal of revival is conformity to the image of Christ, not imitation of animals. by Richard F. Lovelace. cddekddaededfkbd

Tinggalkan Balasan