Teman-Teman Pramuka Tempo Dulu

Pramuka
Foto Pribadi: Mohon Maaf Lahir dan Batin (eh)

Grobogan, 18 Juni 2018. Ceritanya masih tentang bulan Syawal (dimana-mana banyak makanan diatas meja. Hehehe). Waktu lalu aku bersama teman-teman sekelas dan sekarang bersama teman-teman yang lain (sebagian besar teman Pramuka). Selama aku luang sebisa mungkin meluangkan waktu untuk bertemu dengan teman-teman. Jarang sekali aku bisa mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan mereka semua.

Berawal dari janjian di grup WhatsApp dan tidak perlu waktu lama untuk mendiskusikan siapa saja yang ingin datang dan bertemu bisa langsung saja (bilang ok saja), kurang lebih ya seperti itu.

Baca juga: PANITIA JUGA BUTUH BEGINIAN

Oh iya kalau dilihat-lihat sebagian dari teman-temanku sudah mengalami bentuk fisik (bertambahnya massa tubuh) terutama bisa dilihat dari pipi yang semakin mengembang (aku juga tidak jauh dari mereka). Harusnya ada foto lengkap bersama teman-teman yang perempuan (tapi entah aku hanya menyimpan foto itu di penyimpanan awan), jika disatu hari nanti aku menemukan foto yang lengkap bisa ku ganti dengan yang baru (untuk sementara pakai yang itu dulu).

Obrolan ku bersama teman-teman yang lainnya ya tidak jauh dari obrolan orang dewasa (pekerjaan, pasangan dan lainnya). Asyik sih bagi yang menikmatinya tapi kalau tipe yang mudah terbawa suasana (baper) bisa saja sakit hati (terutama perempuan). Kalau laki-laki sepertinya hampir tidak memedulikannya selama belum yakin dengan pilihan (tahun depan ada pilpres lho….ehehehe)

Aku pribadi masih ingin menikmati masa kuliahku hingga benar-benar puas di kampus Undip. Aku sudah lama menemukan jalan hidupku di kampus Undip, jadi tidak mudah bagiku untuk berbelok arah tanpa tujuan yang jelas. Hidupku sudah sangat jelas arahnya kemana, mungkin sebagian besar dari teman-temanku masih bingung “Kenapa kamu belum lulus kuliah apa enggak kasihan sama orang tua yang sudah membiayai kuliah mahal-mahal?”.

Kalau itu menyangkut rasa kasihan (dalam hati tentu ada) namun sebelum mereka bertanya tentang hal itu sejak semester 4 aku sudah lebih dulu mengatakannya kepada kedua orang tuaku kalau kuliahku akan lebih lama dari orang lain. Mungkin juga karena biaya kuliahku lebih murah dari sebagian besar dari teman-temanku. Maka dari itu rata-rata orang bertanya tentang lama studiku di kampus Undip. Aku sendiri termasuk orang yang perhitungan dengan pengeluaran bulanan (biar hemat tapi enggak pelit), rata-rata pengeluaran per bulan antara 500rb s/d 800rb dan untuk biaya kuliah per semester hanya Rp 1 juta saja. Satu lagi penghasilan kotor rata-rata bapak dipasar berkisar antara Rp 2,5 juta sampai Rp 3 Juta per bulan (kerja dipasar). Kalau dirumah pengeluaran per minggu rata-rata Rp 50rb untuk kebutuhan pokok (selain beras). Eh kok aku mencatat sampai pengeluaran keuangan sih ? 😀

Ya kurang lebih seperti itulah mengenai kondisi keuangan dikeluargaku mengapa aku bisa bertahan dan tetap bersikap tenang walaupun banyak orang yang khawatir mengenai studiku. Semua sudah direncanakan dengan baik tanpa harus bertanya yang tidak-tidak kepada orang yang tidak memiliki kepentingan.          

Dari pagi hingga siang bahkan sore hari aku dan teman-teman menghabiskan waktu bersama-sama. Banyak obrolan seru yang sudah kami lewati bersama semoga lain waktu dapat terwujud kembali jika ada kesempatan untuk bertemu.           

Setelah dari rumah temanku  (Didit Shelly) kami mempunyai agenda lain ingin sowan ke rumah Guru kami (entah siapa orangnya untuk ditemui yang penting langsung saja), alangkah baiknya memang janjian dulu sih. Hehehe

Ya cukup itu catatan dariku yang biasa banget, aku tidak ingin diapresiasi mengenai catatan ini atau yang mana. Karena yang ingin lakukan sekarang hingga nanti adalah terus menulis dan menulis (mencatat maksudnya). Terima kasih 😊

Catatan Akhir Kuliah #52

Catatan ini dapat juga dibaca di CATATAN HIROESHY NAKATA

Salam,

About Abdul Jalil

Semua tentang ku dan Haruna

View all posts by Abdul Jalil →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *