Jalan-Jalan ke Dataran Tinggi Dieng untuk Pertama Kalinya

Update Terakhir: 22 Juni 2023 Oleh Abdul Jalil

Semarang, 10 Mei 2023 – Untuk pertama kalinya saya melakukan perjalanan bersama teman-teman ke salah satu tempat yang belum pernah saya kunjungi. Tempat tersebut adalah Dataran Tinggi Dieng. Tempat yang terkenal dengan suasana dingin dan buah pepaya gunung (Carica).

Kami dari Semarang menuju ke Dieng memilih rute jalan nasional. Jalanan terpantau sepi dan lancar. Menikmati perjalanan malam memang seru jika menggunakan mobil. Tapi sayang sekali saya belum berani menggantikan Revan yang sudah mengemudi lebih dari 2 jam.

Sepengetahuan saya Dieng itu tempat yang cukup dingin dan harus memakai pakaian tebal (minimal jaket). Saya merasakannya sendiri ketika sudah memasuki ke Kab. Banjarnegara dengan mengeluarkan tangan ke luar pintu kaca mobil. Di pinggir jalan pun saya melihat beberapa papan peringatan untuk tidak menyalakan AC mobil.

Ya memang benar sih, siapa pun yang datang ke Dieng antara jam 12-4 pagi sepertinya tidak membutuhkan AC mobil. Cukup membuka sedikit pintu kaca mobil agar udara segar bisa masuk dan tidak terlalu dingin juga.

Membayangkan apakah bisa bertahan dari udara dingin, nyatanya saya tidak begitu kedinginan ketika sampai ke tujuan pertama objek wisata Sikunir. Namun teman-teman lainnya ada yang kedinginan. Untuk tiket masuknya terbilang murah yaitu Rp. 15rb per orang dan parkir mobil Rp, 10rb saja.

Karena kami datang bukan hari weekend, lokasi parkir Sikunir relatif sepi dan tidak terlalu banyak orang. Ya sepertinya akan lebih leluasa menikmati Golden sunrise dari bukit Sikunir. Tanpa menunggu lebih lama, kami langsung menuju ke bukit. Saya juga mendengar kalau di pos ada Musala, jadi aman deh bisa salat berjamaah.

Oh iya sebagai informasi tambahan untuk kalian, objek wisata bukit Sikunir itu terletak di Kec. Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Awalnya saya pikir Sikunir itu masuk Kab. Banjarnegara, ya memang saya tidak buka Google maps mengenai lokasi wisata tersebut.

Perjuangan Menuju Bukit Sikunir

Kami memutuskan untuk segera mendaki bukit sebelum fajar tiba. Namun sebelum sampai ke bukit Sikunir, pertama-tama harus melewati medan yang cukup menyakitkan. Bagi saya medan seperti bukit atau gunung merupakan tantangan berat untuk kaki saya.

Trek menanjak memunculkan rasa nyeri pada kaki, terakhir kali saya merasakan nyeri pada tahun 2018 saat itu mendaki Gunung Ungaran. Setelah kecelakaan hebat di tahun 2015 bulan Mei membuat saya berpikir ulang kalau ada ajakan naik gunung.

Hal tersebut sudah terlanjur sampai di lokasi, pada akhirnya tidak boleh melewatkan momen kebersamaan bersama mereka. Secara perlahan saya menaiki satu per satu anak tangga dan dibantu oleh si Revan dengan membawakan tas. Mereka yang terbiasa naik gunung, trek menajak ke bukit Sikunir tergolong biasa saja.

Beberapa menit perjalanan menaiki anak tangga, kami semua berhenti sejenak dipos pemberhentian yang ada Musalanya. Tujuan pasti untuk beribadah sebentar dan sekalian istirahat.

Ada hal yang cukup unik ketika saya melaksanakan salat di pos tersebut. Di sana air tidak gratis lho, alias harus bayar Rp 3rb sekali pakai, entah itu untuk ke kamar mandi atau wudhu. Untung saya membawa uang receh.

Setelah salat berjamaah, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke atas bukit Sikunir. Kali ini rasa nyeri sedikit berkurang, meskipun masih terasa. Kata teman-teman yang lain, tinggal beberapa meter lagi akan sampai di tujuan akhir.

Ketika sampai di puncak, saya cukup terkejut karena sudah banyak orang-orang yang sedang menunggu sunrise. Saya melihat aplikasi, kira-kira matahari terbit sekitar setengah jam lagi. Si Subur dengan jiwa petualangannya langsung mencari posisi untuk mempersiapkan sarapan kopi dan mie instan (cup).

Saya sendiri membantu si Subur untuk mempersiapkan air panas dengan mencari korek api. Kebetulan banget korek api tertinggal di mobil. Saat cuaca masih dingin di bukit Sikunir dan matahari belum terbit. Minum kopi merupakan salah satu pilihan terbaik selain foto-foto. Sejauh mata memandang, hanya rombongan kami saja yang pagi-pagi sudah minum kopi panas.

Lama kelamaan udara tidak begitu dingin, sambil menyeruput kopi panas. Saya menikmati pemandangan pagi hari. Sadar kondisi hape sudah kalah saing, saya numpang foto di hape teman saja, tidak banyak tapi cukuplah sebagai dokumentasi.

Tahun 2023, mungkin hanya sedikit orang yang masih menggunakan OS Android 7.0 dan Smartphone Redmi Note 5A atau seumuran. Tentu saja, perangkat tersebut masih dapat saya gunakan untuk mengakses mobile banking. Untuk urusan fotografi saya sudah tidak mengandalkan teknologi kamera 5 tahun yang lalu.

Di dalam foto saya perkenalkan satu per satu mulai dari yang paling kiri, yaitu ada di Revan, Hiro, Subur, Fina, Laras, dan Vivi. Semuanya sudah banyak ambil foto di bukit Sikunir, tapi di blog ini tidak saya kasih banyak, cukup yang pantas dan cocok saja untuk dokumentasi.

Puas foto-foto kami pun segera turun ke bawah untuk melanjutkan perjalanan. Tapi sepertinya hanya pria-pria doang yang bersemangat turun. Maklum untuk cewek-cewek masih belum puas foto-foto, pada akhirnya kami tinggal saja.

Selama perjalanan turun ke bawah merupakan tantangan yang paling berat bagi saya, nyeri semakin menjadi jadi. Saya hanya bisa turun secara perlahan, dan sesekali berhenti sejenak menikmati pemandangan pagi hari.

Saya, Revan, dan Subur tiba lebih dulu di salah satu warung yang menyediakan camilan kentang khas Dieng. Rasanya enak, sedap, dan manis.

Walaupun bukan gorengan panas, rasanya tetap enak disantap bersama kentang Dieng. Ingin membawanya sebagai oleh-oleh, sepertinya tidak mungkin. Sambil menunggu yang lain, kami bertiga istirahat terlebih dulu. Sekitar pukul setengah sembilan pagi kami meninggalkan tempat wisata Sikunir dan menuju ke objek wisata Kawah Sikidang.

Kawah Sikidang

Perjalanan ke Kawah Sikidang tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima s.d sepuluh menit dari Sikunir. Hal tersebut yang bisa menjadi salah satu kelebihan jalan-jalan di kawasan dataran tinggi Dieng. Kawah Sikidang terletak di Desan Dieng Kulon, Kab. Banjarnegara.

Menurut informasi yang saya dapatkan, kawah Sikidang ini merupakan kawah aktif terbesar yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Untuk luasnya sendiri kurang lebih 4 hektare.

Tiket masuk ke Kawah Sikidang sangat terjangkau yaitu hanya Rp 20rb saja, nah untuk tiket tersebut sudah termasuk tiket lanjutkan ke Candi Arjuna. Bukan paket hemat, tapi memang untuk memudahkan saja biar sekali jalan hanya menggunakan satu tiket.

Lagi-lagi kami para pria harus menunggu relatif lama teman-teman lainnya yang sedang “membereskan tamu” di kamar mandi. Saya manfaatkan untuk mengambil berapa foto sebagai oleh-oleh.

Oh iya, foto di atas saya mengenakan masker karena untuk penyesuaian saja. Karena bau Belerang atau Sulfur (S) cukup menyengat hidung. Lama-lama akan terbiasa ketika sudah memasuk lebih dalam. Kata teman yang sudah pernah berkunjung ke Sikidang kondisi sudah berbeda, sekarang sudah ada jalur khusus untuk wisatawan. Jadi tidak sembarangan orang bisa melewati pagar pembatas.

Melihat kolam air panas saya sempat terpikirkan untuk merebus telur. Meskipun rasa telur tetaplah telur, tapi yang membedakan adalah tempat merebusnya. Sampai sekarang belum pernah sih saya merebus telur di kawasan kolam air panas.

Cukup banyak wisatawan yang berkunjung dan mengabadikan momen bersama keluarga atau pun pasangan. Saya juga sempat melihat ada calon pasangan suami istri yang sedang melakukan sesi foto pre-wedding. Mungkin konsepnya adalah tentang kabut. Hihihi

Satu-satunya rombongan yang paling banyak mengabadikan momen di Kawah Sikidang adalah si Laras, entah sudah berapa banyak foto yang sudah Ia dapatkan. Ya kalau melihat karakternya memang cocok sebagai objek foto,

Kalau saya sendiri lebih banyak menikmati pemandangan. Ada sih, saya ambil foto di sana, tapi hasilnya kurang memuaskan, tampang sudah mirip bapak-bapak tapi belum ada pasangannya. Jadi, tidak cocok lah saya taruh di blog ini. Hihihi

Sekitar satu jam kami menghabiskan waktu di Kawah Sikidang. Foto bersama di atas sebagai tanda akhir sebelum meninggalkan tempat. Kami memang tidak bisa berlama-lama, perut sudah lapar tapi ingin melanjutkan ke tempat selanjutnya (Candi Arjuna).

Candi Arjuna Dieng

Setelah mendiskusikan rencana perjalanan, kami langsung menuju ke Candi Arjuna. Sebenarnya kami sedikit capek jalan, tapi rasanya seru. Untuk makan siang sekalian saat masuk waktu Zuhur, lagian Kawah Sikidang dan Candi Arjuna masih satu jalur.

Ketika sampai lokasi parkir sekitar pukul 10.45 WIB, cuaca sekitar cukup terik tapi hawanya sejuk. Lagi-lagi kami harus jalan agar sampai ke pusat kompleks candi. Menyerahkan tiket yang kami bawa dari Kawah Sikidang dan sebelum masuk kami diberikan kain putih (batik) dengan motif yang saya sendiri belum tahu namanya.

Suasana di sekitar candi lumayan ramai pengunjung, kalau saya perhatikan rata-rata anak usia sekolah yang mungkin sedang piknik atau studi kasus. Saya bisa bilang seperti itu, karena mereka masih mengenakan seragam sekolah.

Walaupun kami semua berada di dataran tinggi, jika cuaca sedang panas. Kami juga lebih memilih berteduh di bawah pohon sambil ngobrol hal-hal ringan. Jadi ceritanya, kami datang untuk menumpang istirahat sejenak di sekitar candi. Hihihi

Puas berteduh di bawah pohon, kami memutuskan foto bersama sebelum meninggalkan lokasi. Jujur saja, kami tidak bisa berlama-lama. Karena dalam beberapa menit ke depan, sudah memasuki waktu Zuhur.

Kalau tujuan ingin menikmati suasana di kawasan candi, lebih enak dan nyaman datangnya pas masih pagi atau matahari belum terlalu terik. Karena saya perhatikan lingkungan sekitar sangat cocok sekali buat jalan-jalan santai.

Sebelum ke destinasi selanjutnya, kami semua makan siang dulu ke salah satu tempat makan. Kami semua harus mengisi ulang tenaga agar bisa melanjutkan ke tujuan terakhir liburan pada hari ini.

Cerita hari ini tentu saja akan menjadi salah satu perjalanan wisata yang sangat seru. Hal tersebut bisa saja tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Mengingat untuk pergi ke sana perlu meluangkan waktu yang cukup banyak agar bisa menikmati semua destinasi wisata di Dataran Tinggi Dieng.

Setelah selesai makan siang dan ibadah salat Zuhur sebentar, kami langsung menuju ke Pangonan. Awalnya saya kita tempat tersebut merupakan hutan wisata, ternyata saya salah. Detailnya saya ceritakan lebih lanjut.

Padang Sabana Pangonan

Ya! Sesuai dengan namanya “Sabana Pangonan” merupakan tempat yang asyik sebagai destinasi terakhir kami di Dieng. Tempat tersebut menyuguhkan padang rumput yang luas, dan dikelilingi perbukitan hijau.

Sekitar pukul satu siang, kami sampai di Basecamp Pangonan, dan tanpa berlama-lama. Subur langsung ke meja registrasi.

Tiket masuknya sendiri di kami membayar Rp 10rb per orang, Sangat terjangkau sekali untuk orang-orang yang ingin mencari suasana lain berlibur di kawasan Dieng. Sebelum berlibur, pastikan dalam kondisi sehat dan fit.

Perjalanan menuju ke Sabana Pangonan akan menghabiskan waktu sekitar setengah jam jalan kaki. Karena kaki saya tidak dalam kondisi fit, tentu saja akan lebih dari itu. Tidak apa-apa, saya tidak ingin terlalu merepotkan mereka. Saya pilih berjalan di belakang mereka, dan pelan-pelan asal sampai.

Selama perjalanan saya sering menjumpai bunga cantik yang bernama Bunga Hortensia, untuk nama ilmiahnya adalah Hidrangea. Biasanya saya hanya bisa melihatnya di internet, dan sekarang saya bisa melihatnya secara langsung. Sengaja tidak saya ambil foto, kalau kalian penasaran dengan bentuk dan warna bunganya, bisa klik mesin pencari. Hihihi

Saat berangkat juga, kami sempat berpapasan dengan rombongan yang turun. Sepertinya di lokasi sabana pasti sepi, karena sepengetahuan saya, lokasi parkir tidak banyak kendaraan. Wah…bakalan seperti lokasi pribadi nih. Hihihi

Setelah berjalan melewati hutan dengan segala pemandangan yang spektakuler, akhirnya kami semua sampai di padang sabana. Rasanya lega sekali, karena sabana benar-benar sepi dan nyaman untuk menikmati suasana dan foto-foto dari berbagai posisi, meskipun saya sendiri ingin beberapa foto saja.

Rasanya lega sekali kami sudah sampai di tujuan terakhir jalan-jalan hari ini. Tanpa pikir panjang teman-teman cewek sudah sibuk ambil foto untuk memenuhi galeri mereka masing-masing. Saya sendiri numpang foto saja. Hihihi

Sejauh mata memandang, kami seperti berada di dalam lembah. Tapi kenyataannya kami di hamparan padang rumput kering sedikit hijau yang dikelilingi perbukitan. Pantas saja, beberapa teman ingin sekali pergi ke Pangonan, ternyata saya sudah menemukan alasannya.

Tempat yang bagus untuk orang-orang yang suka foto-foto dan langsung unggah ke media sosial. Saya sendiri lebih suka menikmatinya, dan benar saja pose salam jari kelingking akhirnya bisa sampai di Pangonan. Sesekali saya juga membantu teman-teman yang ingin mengabadikan momen.

Sebenarnya dokumentasi dalam bentuk video saya ingin sekali mengunggahnya ke blog, tapi sampai saat ini belum menemukan cara paling efektif selain menaruh tautan di YouTube (embed video). Apalagi saya masih menggunakan layanan unlimited hosting, sangat tidak mungkin menarung video ke dalam server.

Selain foto sendiri, mainan bebek yang biasa saya bawa tidak lupa meninggalkan jejak di Pangonan. Mumpung cuacanya sangat bagus dan udaranya sejuk.

Langit biru yang awalnya hampir tertutup awan putih, lama-lama terlihat juga lho dan bagus kalau untuk latar belakang foto. Saya beberapa kali mencoba ambil foto menggunakan kamera sendiri, eh ternyata hasilnya justru makin jelek.

Menyadari teknologi sudah jadul, saya memang ditakdirkan menikmati saja suasana di Pangonan. Kalau sudah pulang, tentu saja suasana akan sangat berbeda jauh.

Oh iya, saya ingin memberikan saran, kepada kalian yang memiliki masalah penglihatan (rabun jauh), usahakan menggunakan lensa kacamata tipe adaptif (photocromic). Karena lensa tersebut akan sangat membantu kalian beraktivitas di Pangonan.

Ketika cuaca cerah, di Pangonan benar-benar sangat silau sekali. Minimal kalian menggunakan penutup kepala atau kacamata hitam. Walaupun, matahari tertutup awan, tetap saja bagi orang-orang yang memiliki masalah penglihatan akan merasa sedikit terganggu.

Sebelum pulang foto bersama dulu, setelah itu ya sesi foto bebas masing-masing. Masih ada waktu kurang lebih setengah jam sebelum meninggalkan Pangonan. Seperti biasa, cewek-cewek masih ingin menambah dokumentasi buat kenang-kenangan saat di sampai di rumah.

Revan memilih tidur, Subur masih ingin bermain dengan singa kecilnya, dan saya sendiri hanya duduk-duduk saja melihat 3 orang wanita wisatawan lokal entah siapa saya tidak kenal (bukan mereka) yang sedang asyik dandan. Sayang sekali dari ketiganya tidak ada yang menarik. Hihihi

Setelah puas foto-foto di Pangonan, kami semua harus meninggalkan tempat yang indah tersebut. Semakin sore sebenarnya cantik saja suasana di Pangonan, tapi sayang sekali kami harus segera kembali. Cukup memberikan salam hangat untuk tempat liburan terakhir kami. Mungkin lain waktu, salah satu dari kami akan kembali entah dengan siapa.

Capek melakukan perjalanan dari Pangonan ke basecamp, sebelum pulang ke Semarang. Saya, Subur, dan Laras mampir dulu ke salah satu toko oleh-oleh. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp 10rb per bungkus (isi 6 cup).

Perjalanan pulang ke Semarang, kami tidak melalui jalan yang saat berangkat. Kami memilih rute lain yang lebih sejuk dan mungkin saja lalu lintasnya lebih santai. Kami memilih rute Tambi-Sumowono. Rute alternatif bagi beberapa orang yang menginginkan suasana lain.

Seperti yang kalian ketahui, catatan ini ada bisa menjadi salah bukti bahwa kami pulang dalam keadaan selamat walaupun capek. Saya akui Revan lebih capek, karena Ia yang seharian ini mengendarai mobil tanpa ada pengganti.

Kalau tidak salah kami sampai di Sanggar Pramuka sekitar pukul sembilan malam. Sebagian teman-teman langsung pulang, ada pula yang menginap sekalian. Saya tim yang menginap. Hihihi

Saya rasa catatan ini cukup sampai di sini ya, jika ada salah kata atau sesuatu yang menyinggung kalian. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Pokoknya jangan lupa bahagia! 🙂

Sekian dari saya, dan terima kasih!

Daily Life 2023 #130

Salam,

TTD Abdul Jalil

About Abdul Jalil

Writing every day for happiness

View all posts by Abdul Jalil →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *