Surat Dari Masa Lalu 7

Menemui kak Abdul Jalil

Apa kabar hari ini kak ? semoga baik-baik saja. Melalui surat ini izinkan saya untuk lancang. Saya hanya ingin mecurahkan isi hati saya kak. Perkenankan saya melantunkan sebuah puisi emosi jiwa yang sudah saya tahan-tahan sejak lama.

Kak….

Wajahmu bagaikan buah semangka. Bulat mulus tak bertepi. Kulitmu mulus bagaikan isi buah durian montong. Aroma tubuhmu bagaikan jeruk sunkist. Harum segar di pagi hari yang merona. Bibirmu bagaikan buah delima. Merah merekah indah melimpah. Warna kulitmu kuning langsat. Karena langsat itu buah yang berwarna kuning-kuning bagaemana gituh. Matamu indah bagaikan biji buah sirsak. Hitam tajam menusuk sukma. And…yes indeed

(hehehe…sesungguhnya inilah inti dari semua puisi di atas)

     (maaf kak.. saya hanya bicara jujur) yang jelas. Sungguh beruntunglah pemuda yang bisa memetikmu. Memetik buah buahan itu. Sesungguhnya kak, ada satu pertanyaan yang selalu menghantui di benak saya.” Kakak itu pernah tinggal di taman buah mekarsari ya kak. Atau kakak dulu jualan rujak buah? Dagang sop buah. Atau.. jualan rujak mungkin?

Yang jelas..

Makan siang kurang nikmat dan lengkap tanpa kehadiran buah-buahan. Buah-buahan itu mengandung vitamin yang menyehatkan tubuh kita. Seperti juga kahadiran kakak di kelas MOS ini yang selalu menghadirkan semangat di hati saya. Demikian surat ini semoga kakak berkenan.

(hehehe rada norak..nggak nyambung…jadul..dan jayus…tapi namannya juga buat lucu lucuan. Biar kakak seniornya senang…kalaupun nanti kakak seniornya malah marah yaa itu bukan tanggung jawab saya )

Hormat saya : pince a epiler/ gyshela anggita citra devi/Xi

About Abdul Jalil

Semua tentang ku dan Haruna

View all posts by Abdul Jalil →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *