Catatan Tentang Aku Mereka dan Gunung Ungaran

Perjalanan
Senyum Gunung Ungaran
Foto : Senyum Cerah di Pagi Hari

Gunung Ungaran, Senyum cerah dipagi untuk kalian yang membaca catatan ku kali ini. Agenda muncak bersama teman-teman kembali terwujud. Aku sedang mencoba menghibur diriku agar menjadi pribadi yang menyenangkan. Aku akan mencatat lumayan banyak untuk catatan ini, jadi bersiaplah untuk merasakan bosan. Hehehe

Hari sebelumnya atau lebih tepatnya bulan lalu kami semua sudah melakukan perjalanan muncak menuju gunung Ungaran. Mampir dulu ke rumah salah satu Keluarga Besar Racana Diponegoro (KBRD) mbak Aini itulah namanya untuk mempersiapkan perbekalan yang ada.

Kami memulai perjalanan sehabis shalat dzuhur (untuk foto-foto kenangan akan ku taruh dibagian akhir dari catatan ini jika sudah ku kehendaki ). Aku sedang tidak ingin menuliskan sebuah foto bernarasi seperti biasanya. Aku masih memiliki pekerjaan lain yang harus segera dilakukan. Namun semua itu bisa berubah kapan saja, karena aku membuat catatan ini begitu sangat panjang dan sangat membosankan jika tidak mengerti alur catatan ini.

Baca juga: PESAN CINTA UNTUK HARUNA DARI LERENG GUNUNG MERAPI

Perjalanan kami sangat menyenangkan seperti dulu bisa memandangi yang hijau-hijau. Aku juga melihat hamparan kebun Teh yang cukup luas. Rasanya ingin memilikinya, namun hal itu tidaklah mudah untukku saat ini dan hingga nanti.

Total ada berenam orang yang ikut muncak ke gunung Ungaran. Mereka adalah teman-temanku (Pramuka Undip) dan temannya si Ipon (Ust. Yahya) yang memakai penutup kepala warna abu-abu. Kita semua masih lajang kecuali Ust. Yahya yang sudah berkeluarga. Harusnya perjalanan normal menuju ke puncak tidak lebih dari 5 jam.

Kami mempunyai rencana estimasi waktu sampai dipuncak itu sekitar habis maghrib, namun kenyataannya tidak seindah itu. Kami hampir sampai dipuncak. Karena malam telah tiba tidak mungkin bagi kami untuk melanjutkan perjalanan, terlebih juga kami juga sudah kelelahan.

Malam begitu sangat dingin ketika angin bertiup sangat kencang. Kami hanya membawa satu tenda dan itu khusus ditempati cewek-cewek. Sisanya bukan termasuk aku sudah memakai kantung tidur dan itu cukup untuk melawan hawa dingin angin pegunungan.

Aku hanya memakai jaket dan bahkan tidak ingin tidur. Jujur saja aku justru sangat menikmati malam dingin di gunung Ungaran karena aku bisa melihat dengan jelas Bulan terbit begitu sangat bulat (menurutku) dan sangat cantik sekali.

Malam hari yang seharusnya gelap gulita semua menjadi telihat terang karena bulan sangat bersinar dan langit juga sangat cerah penuh dengan bintang-bintang. Aku tidak bisa melupakan momen langka dan mungkin hanya sekali dalam seumur hidupku.

Teman-teman ku yang lain sudah nyenyak tidur mungkin sambil menahan dinginnya malam. Oh iya aku ingin memberi satu hal untuk yang mungkin asyik untuk dicoba, kalau di gunung sinyal jaringan Telkomsel bisa sampai dipuncak lho, bahkan 4G LTE lho..hehehe

Saking asyiknya mendapat sinyal intenet aku jadi lupa untuk tidur dan memulihkan tenagaku yang banyak terkuras diperjalanan mendaki gunung. Seperti yang sudah ku sampaikan sebelumnya angin malam begitu dingin yang bertiup kencang. Aku tidak bisa berkata-kata lagi tentang cerita malam yang hanya sepi menjadi teman ku begadang.

Aku masih berpikir mengapa aku masih ingin memperjuangkannya, meskipun dirinya sudah tidak peduli lagi dengan ku ini. Aku berbicara sendirian entah dengan siapa yang pasti itu adalah salah satu unek-unek didalam pikiranku yang ingin sekali ku sampaikan kepada malam.

Aku memang tidak bisa berbuat banyak, tapi aku harus melakukannya dengan sebaik-baiknya. Setidaknya aku ingin memberikan ucapan selamat untuk terakhir kalinya dan mungkin sebagai tanda perpisahan dalam kaitannya perasaan. Aku ingin tetap berteman dengannya meskipun hanya sebatas penikmat story WhatsApp tidak lebih dan tidak kurang. Jika dirasa cocok mungkin sedikit berkomentar adalah satu cara untuk saling sapa dengannya.

Bebek
Foto: Selamat Pagi

Satu hal yang menyenangkan dalam hidup itu dimulai dari melakukan hal yang sederhana. Jika aku memiliki seseorang yang istimewa pastinya memulainya dari memberikan satu ucapan selamat pagi. Itu sebagai tanda terima kasih ku kepada Tuhan Yang Maha Esa telah mengirimkan satu mahluknya untuk memberikan kebagiaan kecil. Aku tidak ingin muluk-muluk ingin mendapatkan perhatian dari seseorang.

Baca juga: CATATAN DI ATAS BATU

Jika orang lain ke gunung membawa seseorang yang spesial/istimewa, aku hanya membawa beberapa mainan kecil milik adik ku sebagai objek foto yang bagus. Beberapa waktu yang lalu aku baru saja dibelikan hp untuk kebutuhan komunikasi dan ada kelebihan untuk sektor kamera lumayan lah untuk dokumentasi pribadi. Aku tetap bisa membohongi diriku sendiri hati ini merasa kesepian, aneh saja ketika berada dikeramaian aku hanya berdiam diri saja seolah-olah tidak menikmati suasana yang ada. Meskipun demikian aku berusaha untuk tetap tersenyum sambil memamerkan bebek kecil yang lucu sekali. Aku juga membawa mainan lain sebagai hiburan tersendiri bagiku. Teman-temanku juga sibuk mengabadikan sebuah momen. Aku lebih suka mengabadikan hal yang seperti kekanak-kanakan. Bagiku itu lebih seru kedengarannya.

Permainan
Foto: Aku Ingin Bermain

Dan benar saja aku merasakan kebahagiaan yang mungkin berbeda daripada teman-temanku yang lainnya. Seperti yang ku bilang sebelumnya aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika sedang merasa bahagia jika melakukan sesuatu yang kekanak-kanakan. Aku berimajinasi yang membawa pedang itu adalah aku sendiri bertarung melawan dinosaurus jahat dan pada akhirnya berhasil menyelamatkan tuan putri. Hehehe

Aku mungkin lelah tapi permainan belum berakhir. Masih banyak foto dan cerita yang belum tersampaikan kepada kalian semua. Catatan ini hanya sebagian kecil untuk kalian dan seseorang yang sangat ku nantikan dimasa depan.

Mereka pasti akan melihat catatan ini, karena aku menyakininya. Mungkin mereka akan tertawa sendiri melihat kelakuanku dimasa sekarang seperti ini. Setidaknya aku harus mempersiapkan jawaban yang seru jika masih diberikan kesempatan.

Tidak lupa aku juga menyempatkan sarapan diatas gunung sembari menikmati pemandangan yang sangat indah. Lain sekali jika berada didaratan rendah, mungkin hanya tembok atau sesuatu yang biasa ketika menikmati sarapan.

Oh iya cewek cantik mahasiswi poltekkes biasa sedang tergesa-gesa atau sekedar lewat. Lupakan saja ya aku tidak ingin membahasnya terlalu dalam nanti aku ujung-ujungnya membahas makanan.

Kesempatan bisa mendaki gunung bersama teman-teman termasuk jarang terjadi karena masalah keuangan dan waktu. Jika ada uang waktu yang tidak berpihak, atau ada banyak waktu luang namun kondisi keuangan yang sedang tidak baik. Jadi seperti itulah keadaannya.

Ketika ada agenda muncak ke gunung ada banyak sekali keinginan yang sebenarnya ingin ku lakukan,  namun ketika sudah sampai di puncak ekspetasi tidak seindah dengan kenyataan. Otomatis tidak bisa berbuat banyak selain mengkondisikan keadaan yang ada.

Tidak ingin berlama-lama di puncak gunung ketika matahari sudah bersinar terang dan silau memaksa mata untuk berlindung dibalik topi. Setelah semuanya telah selesai sarapan dan foto-foto, dalam hati mengucapkan selamat tinggal lain waktu aku akan datang kembali bersama seseorang yang aku cintai. Semoga saja keinginan itu terwujud meskipun akan sulit. Aku hanya bisa berencana.

Foto: Waktunya Turun Gunung

Cuaca di gunung sangat cerah lho, langit begitu sangat biru tanpa ku melihat sedikit awan putih untuk beberapa menit kemudian. Aku sempat mengabadikan momen tersebut di hp ku sendiri. Foto di atas bukan hasil dari kamera hp ku. Aku meminta salinan foto itu karena ada diriku yang seluruhnya tertutup rapat dan hanya kedua mataku yang masih terlihat jelas. Sebagian besar pendaki yang berangkat bersama rombongan kami juga ikutan turun. Harus giliran dong. Hehehehe

Foto itu akan menjadi saksi dikemudian hari kalau kami pernah bersama-sama mendaki mungkin untuk terakhir kalinya. Karena sejujurnya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Jika dunia muncul kekacauan bahkan sampai menyerang server penyedia hosting, semua kenangan yang ku simpan di server milik wordpress dan google akan hilang untuk selamanya. Untuk langkah pencegahan aku menyiapkan rencana cadangan yang bisa digunakan kapanpun itu.

Baca juga: AYO PIKNIK KE TIAMO

Mungkin catatan dibagian akhir ini bisa dijadikan sebagai apa ya aku menyebutnya. Hhhmm, sebagai sesuatu perlu diingat kejadian luar biasa. Intinya kurang koordinasi dalam berkomunikasi. Aku memang memiliki masalah dibagian kaki kiriku, aku turun paling lambat dan paling akhir diantara yang lainnya.

Di persimpangan jalan pulang aku memilih jalanku untuk turun sendirian. Harusnya aku mengikuti mereka lurus melewati kebun teh namun aku berbelok arah menuju hutan (salah satu jalan menuju ke pos 1). Aku sudah berusaha mengirimkan pesat singkat, karena hanya hp ku yang mempumyai sinyal internet otomatis mereka semua tidak membaca pesan dariku.

Mereka menungguku hingga tertidur dan sebel juga karena keputusanku (aku sebenarnya mencari tempat untuk buang air kecil karena sudah kebelet banget), tentu saja mencari tempat yang sepi dan jarang ada orang lewat (jalur utama pendakian sangat ramai).

Karena sudah terlanjur masuk ke dalam hutan dan terdapat tanda menuju ke base camp mawar instingku sudah jelas arahnya kemana meskipun aku sendiri sedikit ragu melangkah. Namun, setelah ku pikir-pikir jika aku ragu makan aku tidak akan segera turun.

Secara ajaib aku orang pertama yang sampai terlebih dahulu di camp mawar kemudian disusul teman-teman lainnya dan dua teman ku (Nana dan Ipon) masih mencariku dijalur pendakian bertanya mungkin ada yang melihat keberadaanku (mereka tidak akan menemukanku karena aku berada di dalam hutan). Aku sendiri tidak bisa kata banyak ketika kedua teman ku telah bertemu denganku lagi.

Mereka pikir aku tersesat di dalam hutan. Kecil kemungkinan jika aku tersesat dijalur pendakian. Aku sendiri juga tidak bodoh-bodoh amat masuk hutan. Waktunya untuk beristirahat dan mengumpulkan perlengkapan tidak lupa mampir dulu ke rumahnya Mbak Aini untuk membersihkan kekacauan yang sudah terjadi. Hehehe

Semuanya kembali dengan baik-baik saja, ada banyak sekali kisah yang sudah terjadi selama perjalanan naik dan turun gunung. Semoga catatan ini mendapatkan kesempatan untuk dibaca kembali oleh mereka maksud dalam keinginanku. Aamiin. . . .

Kumpulan foto-foto lainnya. . . .

Foto: Persiapan
Foto: Salam Jari Kelingking
Foto: Siluet
Foto: Dino Sepertinya Senang
Foto: Dino dan Cahaya Pagi
Foto: Bagaikan Langit di Pagi Hari Berwarna Biru

Sudah itu saja dokumentasi yang mungkin cocok sebagai pajangan di catatan ini. Terima kasih 😊

Catatan Akhir Kuliah #55

Catatan ini dapat juga dibaca di CATATAN HIROESHY NAKATA

Salam,

Abdul Jalil

Semua tentang ku dan Haruna

https://abduljalil.my.id/

Tinggalkan Balasan